Dakar - Presiden AS, Obama pernah berkunjung ke Pulau Goree di Senegal. Pulau dengan sejarah kelam, dulunya adalah tempat jual beli budak Afrika.

Menarik untuk melihat sisi lain Presiden AS, Barack Obama dari segi wisata. Melihat ke tempat-tempat apa saja dia datang dan berkunjung ke destinasi di suatu negara, yang tentu punya maksud tertentu. Terlepas dari maksudnya itu, tiap destinasinya bisa jadi referensi perjalanan kamu.

Tahun 2013 silam, Obama sekeluarga melakukan kunjungan ke Senegal. Maksud dari kunjungannya adalah untuk menemui pemerintah Senegal, membahas tentang legalitas kaum homoseksual. Baik, tak perlu membahas panjang lebar soal itu.

Dikutip dari berbagai media internasional seperti Daily Mail, Reuters dan AFP, Jumat (13/1/2017) selama di Senegal, Obama dan keluarganya mampir ke Pulau Goree. Pulau kecil yang berjarak sekitar 1-2 km dari pelabuhan di Kota Dakar, ibukotanya Senegal.

Selamat datang di Pulau Goree (unesco.org)Selamat datang di Pulau Goree (unesco.org)


Gambaran budak-budak Afrika di zaman dulu (britannica.com)Gambaran budak-budak Afrika di zaman dulu (britannica.com)


Pulau ini memang punya deretan pantai yang cantik, serta suasananya sangat tenang. Tapi pada abad pertengahan, Pulau Goree bak neraka bagi orang-orang Afrika. Sebab mereka yang dijadikan budak akan ditahan di sana.

Sejarah mencatat, pada abad ke-14 sampai ke-19 Pulau Goree menjadi pusat perdangan budak Afrika. Seluruh budak-budak dari Afrika akan ditampung di sana, yang kemudian oleh bangsa Portugis, Belanda, Inggris dan Prancis dijual kepada para pelaut untuk diperdagangkan ke berbagai belahan dunia. Termasuk, sampai ke Amerika.

Budak-budaknya, ada yang dari anak-anak hingga orang tua serta pria dan wanita. Di daerah pelabuhannya, terdapat sekitar 20 rumah yang cukup besar bergaya bangunan Eropa. Di situlah, para budak akan disimpan.

Bangunan-bangunan tempat menampung budak (unesco.org)Bangunan-bangunan tempat menampung budak (unesco.org)


Meski terlihat besar dari luar, nyatanya penuh sesak. Bayangkan saja, satu ruangan sebesar 2 x 2 meter diisi oleh 20 orang lebih. Mereka akan saling berdiri berhimpitan, sampai-sampai tidur pun harus berdiri.

Belum selesai sampai di situ. Beberapa penyiksaan yang dialami para budak, sungguh tidak manusiawi. Kaki mereka, baik yang kanan dan kiri akan diberi pemberat sebesar 5 kg agar tidak kabur. Makanan yang diberi juga tidak layak. Tak sedikit budak yang meninggal di sana, lalu dikebumikan dengan cara dibuang ke laut begitu saja.

Saat proses jual beli, budak-budak akan disuruh bugil dan berjalan di depan para pembeli. Sudah fisik yang disiksa, mentalnya dihancurkan pula.

Kamar-kamar para budak yang jauh dari kata manusiawi (unesco.org)Kamar-kamar para budak yang jauh dari kata manusiawi (unesco.org)


Di sinilah para budak akan tampil bugil di depan hadapan pembeli (CNN Travel)Di sinilah para budak akan tampil bugil di depan hadapan pembeli (CNN Travel)


Para budak yang berada di sana hanya bisa menghitung hari. Baik tetap berada di sana atau diangkut oleh pembeli, bak dua sisi mata uang. Sama-sama buruk nasibnya. Mencoba kabur dari Pulau Goree juga seolah bunuh diri. Jika tidak tewas karena tenggelam atau dimakan hiu, para penjaga akan menembaki.

Tercatat sudah lebih dari 50 ribu budak Afrika yang pernah merasakan kejamnya Pulau Goree. Harga jual mereka, tergantung dari betapa kuatnya dan berasal dari etnis mana.

Setelah AS dibawah pimpinan Abraham Lincoln pada awal abad ke-19 menghapus perdagangan budak, maka pelan-pelan berakhir pula perdagangan budak di dunia. Pulau Goree pun ditinggalkan oleh bangsa barat, yang penduduknya kembali dapat menjalani hidup dengan normmal.

Obama yang mengunjungi salah satu rumah penampungan budak di Pulau Goree (AFP)Obama yang mengunjungi salah satu rumah penampungan budak di Pulau Goree (AFP)


Tahun 1978, UNESCO memasukan Pulau Goree sebagai salah satu Warisan Dunia. Bangunan-bangunan bersejarah di sana tetap terjaga dan dirawat dnegan baik. Sebagai suatu kenangan, yang menggambarkan betapa suramnya perbudakan di zaman dulu.

"Pulau Goree adalah bukti, ketika kita tidak membela hak asasi manusia," kata Obama mengenai pulau tersebut.

Selain Presiden AS Barrack Obama, beberapa tokoh dunia seperti mendiang Nelson Mandela, Paus Yohanes Paulus II dan George W Bush juga pernah berkunjung ke Pulau Goree. Kini pulaunya dihuni oleh sekitar 1.300 orang yang hidup dengan damai dan tenang.

Pulau Goree terbuka untuk umum. Turis yang melancong ke Senegal, tak sedikit yang melipir ke Pulau Goree. Ketika memasuki tiap rumah penampungan budak, tak sedikit kepala mereka menunduk. Berdoa kepada Tuhan agar orang-orang yang tewas di sana diberi tempat terbaik, serta berdoa semoga tidak ada lagi perbudakan di Bumi.

Anak-anak di Pulau Goree yang ceria (unesco.org)Anak-anak di Pulau Goree yang ceria (unesco.org)